Dari Jurnalis Menjadi Top Eksekutif, Sebuah Gerakan Melawan Narasi Jahat

Boltim, Terkini487 Dilihat

JEJAK.NEWS, BOLTIM.- Sam Sachrul Mamonto, Pemimpin Eksekutif Bolaang Mongondow Timur yang memulai karirnya sebagai seorang Jurnalis media cetak sebagai jalan perjuangan, pernah menjabat Ketua DPRD dan kini menjadi Bupati terpilih Kabupaten Bolaang Mongondow Timur periode 2021-2024 sebagai jalan pengabdian dan perjuangan untuk kemaslahatan.

Profil Pendidikan.

Putra kelahiran Modayag pada 16 Desember 1973 ini menempuh pendidikan dasar di SDN Inpres Modayag tahun 1980, lulus pada tahun 1986 kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Negeri (STN) Kotamobagu selesai pada tahun 1989, (sekarang SMP Negeri 3 Kotamobagu). Setelah lulus beliau memilih pendidikan lanjutan tingkat menengah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Manado tahun 1989 lulus pada 1992. Pasca menempuh pendidikan menengah tahun 1996 kembali melanjutkan studi kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Manado dan menyelesaikannya pada tahun 2000 lalu kemudian, pada tahun 2016 melanjutkan studi di pascasarjana Universitas Sam Ratulangi  dengan konsentrasi Magister Administrasi Public dan menjadi sebagai ketua angkatan.

Karir dan politik

Berangkat dari basic Sarjana Strata Satu Ilmu Komunikasi, beliau memilih jalan merintis karir sebagai seorang Jurnalis di salah satu media massa Harian Posko Manado tahun 2001-2006, kemudian karir beliau menanjak menjadi Redaktur Eksekutif Radar Bolmong Tahun 2006-2008. 

Tahun selanjutnya 2009, beliau mencoba menguji kemampuannya dengan mengikuti seleksi calon Komisioner Penyelenggara Pemilu (KPU) dan berhasil lolos hingga terpilih menjadi ketua lembaga penyelenggara pemilu tersebut hingga tahun 2012, kemudian berhenti menjadi penyelenggara pemilu dan  beliau memilih berjuang menjadi aktivis politik dan berhasil menjadi salah satu ketua partai politik terbesar di Bolmong Raya waktu itu, yakni Ketua DPD PAN Bolaang Mongondow Timur tahun 2012-2015. 

Selain aktif sebagai politisi, beliau terjun di berbagai organisasi dengan memulai kepengurusan sebagai Bendahara Persatuan Wartawan Indonesia Tahun 2004-2006, selanjutnya menjadi Ketua Pemuda Mamonto Bolmong Raya pada tahun 2010-2017, kemudian aktif sebagai Koordinator Humas Presidium Pemekaran Kabupaten Bolaang Mongondow Timur pada rentang waktu 2010-2013. Berbekal pengalaman pada presidium pemekaran Boltim, beliau melanjutkan kembali perjuangan memekarkan daerah dengan Presidium Pemekaran Provinsi Bolaang Mongondow Raya (BMR) sejak 2012 dengan menduduki posisi sebagai Wakil Sekretaris hingga saat ini dan masih terus berjuang bersama kawan presidium lainnya. Pada tahun 2015 menjadi pengurus Palang Merah Indonesia Boltim dengan posisi sebagai wakil ketua masa khidmat sampai tahun 2020. 

Punya pengalaman dan pergaulan yang baik Alul sebagai sebutan kesehariannya, pada tahun 2014 lalu memulai karir politiknya sebagai pemimpin partai mencalonkan diri sebagai Anggota Legislatif Boltim dan berhasil lolos, bahkan partai yang dipimpinnya mampu mendulang suara terbanyak di dua daerah pemilihan dengan perolehan tiga kursi, yaitu wilayah pegunungan dan pesisir sehingga dengan hasil perolehan suara tersebut mampu mengantarkan beliau duduk sebagai ketua DPRD Boltim periode 2014-2019.

Setahun kemudian ketika pasca dilantik sebagai Ketua DPRD tahun 2015, beliau mengundurkan diri sebagai anggota DPRD memilih medan juang baru untuk mengurus masyarakat lewat jalur eksekutif karena program dan gagasan lebih mudah dilaksanakan lewat sistem birokrasi pemerintahan. Dalam proses mencalonkan diri sebagai calon Bupati dengan melawan petahana pada masa kampanye beliau diserang dengan kampanye negatif yang berbau sara, sempat dihembuskan isu bahwa  “Klan Keluarga Besar Mamonto hanya cocok sebagai tukang panjat kelapa” narasi jahat berbau rasis terus dimainkan seolah sebuah kebenaran yang harus diterima keabsahannya tidak perlu divalidasi dan terus berkembang menjadi bahan bullyan untuk membunuh karakter beliau dan pendukungnya. Dengan kata lain melalui narasi ini pihak lawan membuat sebuah kebenaran baru menganggap remeh klan tersebut dan menempatkannya sebagai warga negara yang berkasta rendah dalam strata sosial masyarakat sehingga tidak layak untuk memimpin. Pada kontestasi ini beliau dan pasangan calonnya Medy M Lensun tumbang oleh petahana dan terpaksa harus menanggung beban besar atas nama keluarga Momonto.

Pasca kekalahan, Alul kembali menata infrastruktur ekonominya fokus pada dunia perbankan dengan menjadi Anggota Dewan Komisaris Bank Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) pada tahun 2016-2018, selanjutnya pada 2018 beliau memimpin Perusahaan Daerah Gadasera sebagai Direktur sampai tahun kemarin sebelum kontestasi pilkada lima tahunan dimulai beliau mengundurkan diri. 

Tahun 2020 kemarin tepatnya bulan Desember ketika momentum pilkada hadir, beliau maju kembali sebagai kontestan pilkada Bupati Boltim dengan melawan dua pasangan calon yang salah satunya adalah anak dari lawan politiknya lima tahun lalu, kembali pertarungan politik menjadi sengit dan kali ini issu kampanye negatif kembali dihembuskan untuk membunuh karakter beliau dan klan keluarga besar marga Mamonto, bahwa “Mamonto hanya tukang panjat kelapa”. Issu ini sangat tajam dimainkan dan berciri feodalistik, menempatkan kembali keturunan Mamonto hanya sebagai orang yang tidak punya tempat di tanah kelahirannya, bukan pemilik, hanya buruh kasar penggarap lahan milik orang lain. Namun kali ini Sam Sachrul Mamonto bersama pasangannya Oskar Manoppo berdiri tegak melawan narasi tersebut dengan damai, tidak ada kekerasan dalam merespon issu miring yang dimainkan lawan, tetap bergerak dengan optimisme dan pesan kampanye dengan konten positif. Hal inilah manjadi kekuatan perekat yang meneguhkan kembali keyakinan pendukung dengan menduplikasi model pergerakan yang pernah dilakukan oleh tokoh dunia Mahatma Gandhi, terkenal dengan gerakan “Ahimsa” bergerak dalam diam dan terus tumbuh berkembang menjadi besar. hal tersebut berhasil merekatkan kembali nilai solidaritas dengan kuat di akar rumput, efek dari gerakan damai tersebut berhasil mengantarkan Sachrul dan Oskar sebagai pasangan pemenang dalam kontestasi pemilihan Top Eksekutif Boltim.

Hari ini, Sam Sachrul Mamonto membayar tunai semua hinaan atas nama “Mamonto” sebagai salah satu pemilik garis darah menghapus arang yang tercoreng di wajah karena kekerasan verbal sebab politik, serta atas nama seluruh warga masyarakat Boltim yang eksistensinya dipersoalkan karena keadaan sosial dan ekonomi yang tidak berpihak kepada mereka akibat konten kampanye politik negatif yang dilemparkan lawan. Dengan menebus kekalahan lima tahun lalu sekaligus membuktikan dengan membuat sebuah fakta baru bahwa Boltim bukan milik klan tertentu tapi milik semua warga masyarakat yang lahir dan tumbuh besar serta mereka yang berdiam diri tinggal di sana mencari penghidupan untuk menyambung hidup dan siapapun boleh menjadi pemimpin lewat jalur yang diatur dalam UU yang ditetapkan oleh Negara, selebihnya adalah kehendak Tuhan.(*).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *