22.9 C
Kotamobagu
Rabu, 3 Maret 2021

Penerapan Pasien Centered Care (PCC) dalam Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan

Penulis: Juritno Harmi Gaib

Mahasiswa Stikes Karya Husada Semarang Program Studi Magister Keperawatan.

Semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mempengaruhi rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan. Peningkatan pelayanan kesehatan dilakukan rumah sakit demi menunjang penyembuhan dan pemulihan dengan perhatian penuh akan kenyamanan pasien. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan golongan masyarakat yang berpendidikan dan menguasai informasi semakin bertambah, sehingga mereka dapat memilih dan menuntut untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas sehingga menjadi indikator keberhasilan dari Manajer dan Pimpinan Rumah Sakit. Paradigma baru rumah sakit di era ini adalah pencapaian kualitas “Patient Safety”. Semua rumah sakit berlomba-lomba menerapkan patient safety dengan baik, sehingga semua outcome pasien dapat tercapai. Salah satu yang harus diterapkan dalam menjalankan “Patient Safety” tersebut adalah “Patient Centered Care”.

Semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mempengaruhi rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan. Peningkatan pelayanan kesehatan dilakukan rumah sakit demi menunjang penyembuhan dan pemulihan dengan perhatian penuh akan kenyamanan pasien. Menurut Supriyanto dan Ernawaty (2010), perkembangan pelayanan kesehatan di Indonesia telah berhasil meningkatkan pelayanan kesehatan secara lebih merata. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan golongan masyarakat yang berpendidikan dan menguasai informasi semakin bertambah, sehingga mereka dapat memilih dan menuntut untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan mempunyai kewajiban untuk melayani pasien dengan fasilitas yang lengkap serta pelayanan yang cepat dan tepat. Untuk mencapai hal tersebut manajemen rumah sakit harus dilaksanakan dengan benar (Rhesavani, 2013). Proses perawatan pasien bersifat dinamis dan melibatkan banyak praktisi kesehatan serta melibatkan berbagai jenis perawatan pasien yang diharapkan akan menghasilkan proses-proses perawatan yang efisien, penggunaan sumber daya manusia dan lainnya yang efektif, serta kemungkinan kondisi pasien yang lebih baik. Oleh karena itu, pemimpin menerapkan berbagai sarana dan teknik untuk mengintegrasi dan mengkoordinasikan perawatan pasien dengan lebih baik. Misalnya, perawatan diberikan oleh tim medis, kunjungan terhadap pasien dilaksanakan oleh berbagai departemen, formulir perencanaan perawatan bersama, rekam medis yang terintegrasi dan manajer-manajer kasus (Frelita et al, 2011).

Pelayanan keperawatan di rumah sakit harus mengacu pada aturan dan norma yang berlaku. Setiap tindakan harus berdasar pada SOP (Standar Operasional Prosedur). Pelayanan keperawatan perlu diberikan secara komprehensif. Kebutuhan pasien sebagai makhluk bio-psiko, sosio kultural harus dipenuhi. Pelayanan keperawatan sebagai pelayanan profesional merupakan pelayanan yang bersifat humanistik yang dilaksanakan berdasarkan ilmu dan kiat yang berorientasi pada kebutuhan pasien, baik secara individu, keluarga, kelompok, maupun komunitas yang dilandasi etika keperawatan (Dwiyanti, 2014).

Pelayanan yang berfokus pada pasien atau biasa disebut PCC (Patient Centered Care) merupakan pendekatan untuk membina hubungan timbal balik antara penyedia pelayanan dan pasien sehingga akan mengurangi konflik yang selama ini timbul sebagai akibat sedikitnya komunikasi dan informasi (Kusumaningrum, 2009). Penerapan PCC di rumah sakit harus melibatkan semua aspek, yaitu dari pimpinan, dokter, perawat, sampai tenaga non-medis. Strategi-strategi yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan PCC antara lain: pelatihan leadership, pemberian penghargaan dan insentif serta pelatihan untuk perbaikan mutu. Selain itu, PCC juga dapat meningkatkan otonomi pasien dan pemberdayaan tenaga kesehatan untuk merencanakan dan menjalankan pekerjaan mereka sesuai dengan kebutuhan pasien (Framptom, 2008) Kinerja perawat dalam menerapkan suatu konsep pelayanan kesehatan dapat dirasakan oleh rumah sakit dan juga pasien. Salah satu konsep pelayanan kesehatan yang coba diterapkan saat ini oleh rumah sakit di Indonesia yang sebelumnya sudah banyak diterapkan oleh negara- negara maju adalah patient centered care (PCC) atau pelayanan yang berpusat pada seseorang.

PCC adalah tujuan sekaligus alat yang digunakan untuk meningkatkan hasil kesehatan. Penerapan PCC dalam pelayanan perawatan kesehatan secara global beragam (Cheraghi, Esmaeili, and Salsali 2017). Inti PCC adalah menunjukkan pasien sebagai pribadi yang unik, menghargai nilai, dan keyakinan mereka dan untuk merespon secara fleksibel akan kebutuhan dan pilihan mereka. (McCormack 2003; Mead and Bower 2000). Penerapan PCC menyiratkan bahwa tenaga perawatan kesehatan menilai karakteristik pasien, kebutuhan, dan pilihan pasien lalu mendiskusikan dengan pasien tentang kondisi kesehatan mereka dan rencana perawatan serta mendorong partisipasi pasien dalam keputusan yang terkait untuk pengobatan dan menerapkan pilihan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien (Lauver et al. 2002; Schoot et al. 2005).

Konsep PCC memberikan pelayanan tidak hanya dengan berbicara dengan pasien tetapi memberikan informasi dan edukasi pada setiap pasien, lebih memperhatikan kebutuhan pasien sebagai individu, pendekatan dengan sentuhan yakni memberikan dukungan emosional dan memberikan kenyamanan fisik, mulai dari masuk rumah sakit sampai dengan perawatan lanjutan yang diperlukan pasien. (Frampton, 2008). Institute Of Medicine (IOM) mendefinisikan PCC sebagai asuhan yang menghormati dan responsif terhadap pilihan, kebutuhan dan nilai- nilai pribadi pasien, serta memastikan bahwa nilai- nilai pasien menjadi panduan bagi semua keputusan klinis. (Shaller, 2007).

PCC adalah mengelola pasien dengan merujuk dan menghargai individu pasien meliputi preferensi/pilihan, keperluan, nilai-nilai, dan memastikan bahwa semua pengambilan keputusan klinik telah mempertimbangkan dari semua nilai-nilai yang diinginkan pasien, (Frampton, 2008).

Konsep inti dari Patient Centered Care terbagi atas: 

  1. Penghormatan dan martabat Dalam rangka untuk mendapatkan rasa hormat yang diperlukan dari anggota keluarga, penyedia pelayanan kesehatan mendengarkan dan menghormati keinginan dan pilihan pasien dan anggota keluarga mereka. Berbagi Informasi Dengan menawarkan informasi yang akurat dan objektif kepada pasien dan keluarga mereka mengenai pilihan pengobatan, itu memberikan mereka kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, berbagi perspektif mereka, dan membuat keputusan mengenai perawatan pasien.
  2. Partisipasi Anggota keluarga didorong untuk mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan. Pemberian hak pasien dan keluarga hak untuk membuat pilihan dan keputusan pada waktu mereka sendiri meningkatkan hubungan yangsaling menguntungkan antara dokter dan keluarga pasien. Kolaborasi staf medis, dan administrasi rumah sakit berkolaborasi dengan pasien dan keluarga pada pengembangan program pelayanan.

Dari berbagai jurnal penelitian mengenai PCC yang penulis dapatkan, PCC memiliki manfaat sebagai berikut (Shaller 2007; Hudon et al. 2011; Ells, Hunt, and Chambers-Evans 2011; Suhonen, Välimäki, and Leino Kilpi, n.d.; Sidani 2008) :

  1. Meningkatkan kepuasan pasien 
  2. Meningkatkan hasil klinis 
  3. Mengurangi pelayanan medis yang berlebihan dan tidak bermanfaat 
  4. Mengurangi kemungkinan malpraktek dan keluhan
  5. Meningkatkan kepuasan dokter
  6. Meningkatkan waktu konsultasi
  7. Meningkatkan keadaan emosional pasien
  8. Meningkatkan kepatuhan obat
  9. Meningkatkan pemberdayaan pasien
  10. Mengurangi tingkat keparahan gejala 
  11. Mengurangi biaya perawatan kesehatan.

Tujuan inti dari PCC adalah:

  1. Perawatan diberikan secara tepat waktu, aman dan tepat sesuai dengan standar profesi, persyaratan hukum dan perundang-undangan.
  2. Perawatan selama transisi akan mencerminkan tingkat keterampilan staf. 
  3. Perawatan terkoordinasi untuk memastikan hasil yang terbaik bagi pasien. 
  4. Tidak ada duplikasi perawatan pasien. 
  5. Suatu distribusi yang adil dari pekerjaan. 
  6. Sebuah pendekatan multidisiplin untuk pemberian perawatan. 
  7. Untuk memastikan pendekatan holistik dalam pelayanan keperawatan yang mencerminkan praktek profesional saat ini. 
  8. Mengembangkan dan menerapkan “Model of Care”.

PCC adalah mengelola pasien dengan merujuk dan menghargai individu pasien meliputi preferensi/pilihan, keperluan, nilai-nilai, dan memastikan bahwa semua pengambilan keputusan klinik telah mempertimbangkan dari semua nilai-nilai yang diinginkan pasien (Frampton, et al, 2008). Prinsip yang fundamental dalam pemberian pelayanan kesehatan maupun keperawatan dan sekaligus aspek yang paling kritis dari manajemen kualitas. Keselamatan pasien (patient safety dari PCC) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan resiko (Depkes, 2008).

Tujuan Patient Centered Care, di bidang keperawatan meliputi: 

  1. Perawatan diberikan secara tepat waktu, aman dan tepat sesuai dengan standar profesi, persyaratan hukum dan perundang-undangan. 
  2. Perawatan selama transisi akan mencerminkan tingkat keterampilan staf. 
  3. Perawatan terkoordinasi untuk memastikan hasil yang terbaik bagi pasien. 
  4. Tidak ada duplikasi perawatan pasien.
  5. Suatu distribusi yang adil dari pekerjaan. 
  6. Sebuah pendekatan multidisiplin untuk pemberian perawatan. 
  7. Untuk memastikan pendekatan praktek profesional saat ini.
  8. Mengembangkan dan menerapkan “Model of Care”.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terselenggaranya PCC yaitu kepemimpinan, visi, keterlibatan pasien dan keluarga, lingkungan kerja yang mendukung, kualitas lingkungan rumah sakit, teknologi yang mendukung, pengukuran dan umpan balik yang sistematis. Kepemimpinan menjadi faktor yang penting dalam pembuatan komitmen pelaksanaan PCC oleh pimpinan rumah sakit. Setelah berkomitmen untuk menyelenggarakan PCC, dibutuhkan suatu visi sebagai rencana strategis untuk melaksanakan pelayanan sehari-hari yang berpusat pada pasien. Keterlibatan pasien atau keluarga pasien dapat membantu memecahkan permasalahan karena keluarga memiliki sudut pandang berbeda yang mungkin saja dilewatkan oleh tenaga kesehatan. Selain itu, diperlukan lingkungan kerja yang mendukung dimana petugas kesehatan dihargai dan diperlakukan secara pantas layaknya bagaimana rumah sakit berharap karyawannya memperlakukan pasien. Hal ini dapat dicapai dengan memperhatikan perekrutan tenaga kerja, pelatihan, evaluasi, dan gaji.

Konsep PCC memberikan pelayanan tidak hanya dengan berbicara dengan pasien tetapi memberikan informasi dan edukasi pada setiap pasien, lebih memperhatikan kebutuhan pasien sebagai individu, pendekatan dengan sentuhan yakni memberikan dukungan emosional dan memberikan kenyamanan fisik, mulai dari masuk rumah sakit sampai dengan perawatan lanjutan yang diperlukan. Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan mempunyai kewajiban untuk melayani pasien dengan fasilitas yang lengkap serta pelayanan yang cepat dan tepat. Untuk mencapai hal tersebut manajemen rumah sakit harus dilaksanakan dengan benar.(*).

Latest news

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here